Jumat, 15 Januari 2010

PROPOSAL BBLR

P E N D A H U L U A N

  1. Latar Belakang

Bayi lahir dengan berat lahir renndah (BBLR) merupakan salah satu faktor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal. Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya sehingga membutuhkan biaya perawatan yang tinggi (Anonim, 2006).

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah salah satu hasil dari ibu hamil yang menderita energi kronis dan akan mempunyai status gizi buruk. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga dapat berdampak serius pada kualitas generasi mendatang, yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkembangan anak, serta berpengaruh pada penurunan kecerdasan (Depkes RI, 2005).

Menurut perkiraan WHO, pada tahun 1995 hampir semua (98%) dari 5 juta kematian neonatal di negara berkembang atau berpenghasilan rendah. Lebih dari dua per tiga kematian adalah BBLR yaitu berat badan lahir kurang dari 2500 gram. Secara global diperkirakan terdapat 25 juta persalinan per tahun dimana 17% diantaranya adalah BBLR dan hampir semua terjadi di Negara berkembang (Hadi, 2001).

Data epidemiologi di Inggris dan berbagai Negara maju lainnya memperlihatkan, setelah menjadi dewasa bayi dengan berat ringan untuk masa kehamilannya akan lebih mudah terkena penyakit kronis seperti Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 maupun penyakit kordiovaskuler (PKV) (Sayogo, 2003).

Berdasarkan hasil pengumpulan data indikator kesehatan propinsi yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan, proporsi BBLR pada tahun 2009 berkisar antara 0,91% (Gorontalo) dan 18,89% (Jawa Tengah), sedangkan pada tahun 2001 berkisar antara 0,54% (NAD) dan 6,90% (Sumatra Utara). Angka tersebut belum mencerminkan kondisi sebenarnya yang ada di masyarakat karena belum semua berat badan bayi yang dilahirkan dapat dipantau oleh petugas kesehatan, khususnya yang ditolong oleh dukun atau tenaga non kesehatan lainnya (Profil Kesehatan RI, 2004).

Secara umum Indonesia belum mempunyai angka untuk bayi berat lahir rendah (BBLR) yang diperoleh berdasarkan survai nasional. Proporsi BBLR ditentukan berdasarkan estimasi yang sifatnya sangat kasar, yaitu berkisar antara 7 – 14% selama periode 1999 – 2000. Jika proporsi ibu hamil adalah 2,5% dari total penduduk maka setiap tahun diperkirakan 355.000 – 710.000 dari 5 juta bayi lahir dengan kondisi BBLR (Depkes RI, 2001).

Salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian bayi (AKB). Angka kematian bayi di Indonesia saat ini masih tergolong tinggi. Angka kematian bayi di Indoesia tercatat 51,0 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2003, ini memang bukan gambaran yang indah karena masih terbilang tinggi bila di bandingkan dengan Negara –negara di bagian ASEAN. pennyebab kematian bayi terbanyak adalah karena gangguan perinatal. Dari seluruh kematian perinatal sekitar 2 – 27% disebabkan karena kelahiran bayi berat lahir rendah (BBLR). Sementara itu prevalensi BBLR pada saat ini diperkirakan 7 – 14% yaitu sekitar 459.200 – 900.000 bayi (Depkes RI, 2005).

Proporsi BBLR dapat diketahui berdasarkan estimasi dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). Pada tahun 1992 – 1997 yaitu secara nasional proporsi bayi dengan berat badan lahir rendah yaitu 7,7% untuk perkotaan 6,6%, dan untuk pedesaan 8,4. Dan pada tahun 2002 – 2003 angka proporsi BBLR tidak mengalami penurunan yaitu sekitar 7,6% (Profil Kesehatan Propinsi Sulsel, 2005).

Hasil penelitian Rumah Sakit maupun Puskesmas menyatakan bahwa pada tahun 1999 tercatat kejadian BBLR sebesar 3,27% dari 25.422 bayi lahir hidup. Data di wilayah Puskesmas pada tahun 2000 menggambarkan bahwa bayi lahir hidup <2500>

BBLR bervariasi menurut propinsi dengan rentang 2,0% - 15,1% terendah di propinsi Sumatra Utara dan tertinggi di Sulawesi Selatan, tercatat bahwa jumlah bayi dengan BBLR sebanyak 1.554 (1,2% dari total bayi lahir) dan yang tertangani sebanyak 1.178 orang (75,8%), dengan kasus tertinggi terjadi di Kota Makassar yaitu 355 kasus (2,63%) dari 13.486 bayi lahir hidup dan yang terendah di Kabupaten Pangkep hanya 3 kasus (Profil Kesehatan Propinsi Sulsel,2005).

Rumah Sakit Al-Fatah adalah salah satu UPT Dinas Kesehatan Propinsi Maluku yang keberadaannya dilandasi dengan keputusan Gubernur Maluku No.5 tahun 1999. Adapun alasan memilih RS Al-Fatah karena Rumah Sakit tersebut melakukan pelayanan kesehatan ibu dan anak, merupakan salah satu Rumah Sakit rujukan untuk kasus – kasus obstetric dan angka kejadian BBLR dalam beberapa tahun ini masih tinggi. Berdasarkan laporan tahunan kegiatan pelayanan RS Al-Fatah, angka prevalensi dari tahun 2004 – 2006 cukup tinggi yaitu 9,05% pada tahun 2004, meningkat pada tahun 2005 sebesar 7,79% dan pada tahun 2006 prevalensi BBLR adalah 7,15%. Dari data tersebut terlihat bahwa selama kurun waktu tiga tahun memperlihatkan adanya masalah BBLR di Rumah Sakit Al-Fatah.

Berdasarkan data yang didapatkan di Rumah Sakit Al-Fatah Ambon yakni pada tahun 2003 ada 64 (10,30%) kasus BBLR dari 621 bayi lahir hidup, tahun 2004 ada 51 (9,05%) kasus BBLR dari 563 bayi lahir hidup, dan pada tahun 2005 ada 65 (7,79%) dari 834 bayi lahir hidup yang menderita BBLR. Sedangkan pada tahun 2006 ada 46 (7,15%) kasus BBLRdari 643 bayi lahir hidup.

Melihat masih tingginya kejadian bayi berat lahir rendah di Maluku termasuk kota Ambon Khususnya di Rumah Sakit Al-Fatah Ambon, maka peneliti tertarik untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR di Rumah Sakit al-Fatah Ambon untuk periode januari – desember tahun 2006.

  1. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka dapat diberikan rumusan masalahnya sebagai berikut :

  1. Apakah umur ibu menjadi faktor risiko kejadian bayi berat lahir rendah di RS Al-Fatah Ambon tahun 2006 ?

  2. Apakah jarak kehamilan menjadi faktor risiko kejadian bayi berat lahir rendah di RS Al-Fatah Ambon tahun 2006 ?

  3. Apakah paritas ibu menjadi faktor risko kejadian bayi berat lahir rendah di RS Al-Fatah Ambon tahun 2006 ?

  4. Apakah kadar Hb menjadi faktor risiko kejadian bayi berat lahir rendah di RS Al-Fatah Ambon tahun 2006 ?

  5. Apakah pemeriksaan kehamilan/ANC menjadi faktor risiko kejadian bayi berat lahir rendah di RS Al-Fatah Ambon tahun 2006 ?

  1. Tujuan penelitian

  1. Tujuan umum

Untuk mengetahui faktor risiko kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) di RS Al-Fatah Ambon periode januari – desember tahun 2006.

  1. Tujuan khusus

  1. Untuk mengetahui umur ibu sebagai faktor risiko kejadian bayi berat lahir rendah di RS Al-Fatah Ambon tahun 2006.

  2. Untuk mengetahui jarak kehamilan sebagai faktor risiko kejadian bayi berat lahir rendah di RS Al-Fatah Ambon tahun 2006.

  3. Untuk mengetahui paritas ibu sebagai faktor risiko kejadian bayi berat lahir rendah di RS Al-Fatah Ambon tahun 2006.

  4. Untuk mengetahui kadar Hb sebagai faktor risiko kejadian bayi berat lahir rendah di RS Al-Fatah Ambon tahun 2006

  5. Untuk mengetahui pemeriksaan kehamilan/ANC sebagai faktor risiko kejadian bayi berat lahir rendah di RS Al-fatah Ambon tahun 2006.

  1. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan yang dapat menambah wawasan khususnya mengenai faktor penyebab kejadian bayi beral lahir rendah (BBLR).

  1. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi segenap penentu kebijakan dan instansi terkait untuk memprioritaskan program kesehatan dalam upaya menurunkan angka kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR).



TINJAUAN PUSTAKA


  1. Tinjauan umum tentang bayi berat lahir rendah

  1. Pengertian bayi dengan berat badan lahir rendah

  2. Karakteristik bayi berat lahir rendah

  3. Upaya mencegah terjadinya persalinan prematuritas atau bayi dengan berat badan lahir rendah.

  1. Tinjauan umum tentang umur ibu

  2. Tinjauan Umum Tentang Jarak Kelahiran

  3. Tinjauan umum tentang paritas ibu

E. Tinjauan Umum Tentang Kadar HB Ibu

  1. Tinjauan umum tentang pemeriksaan kehamilan/ANC


KERANGKA KONGSEP

  1. Dasar Pemikiran Variabel yang diteliti

  1. Umur ibu

Umur ibu merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kejadian bayi dengan berat lahir rendah, dimana angka kejadian tertinggi BBLR adalah pada usia dibawah 20 tahun dan pada multigravida yang jarak antara kelahirannya terlalu dekat. Kejadian terendah adalah pada usia ibu antara 26 - 30 tahun (Hasan dkk, 2000).

  1. Jarak kelahiran

  1. Paritas ibu

d. Kadar HB

  1. Pemeriksaan kehamilan/ANC

  1. Pola Variabel Yang Diteliti

  2. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

  1. Berat badan lahir

  2. Umur ibu

  3. Jarak kelahiran

  4. Paritas ibu

  5. Kadar Hb Ibu

  6. Pemeriksaan kehamilan/ANC



METODE PENELITIAN

A. Jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional denga pendekatan case control study, dengan maksud untuk melihat apakah umur ibu, jarak kehamilan, paritas, kadar HB dan pemeriksaan kehamilan/ANC merupakan faktor resiko kejadian bayi berat lahir rendah.

B. Lokasi penelitian

Adapun lokasi penelitian adalah Rumah Sakit Al-Fatah Kota Ambon, propinsi Maluku

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Semua bayi yang dilahirkan hidup yang yang tercatat dalam rekam medik antara bulan januari sampai desember tahun 2006 dengan jumlah 643 bayi di Rumah Sakit Al-Fatah Kota Ambon.

2. Sampel

a. Kasus : Semua bayi yang lahir dengan berat badan rendah di Rumah Sakit Al-Fatah Ambon periode januari sampai desember tahun 2006.

b. Kontrol : Semua bayi yang lahir hidup di Rumah Sakit Al-Fatah Ambon periode januari sampai desember tahun 2006.

3. Besarnya sampel

Jumlah sample pada kelompok kasus sebanyak 46 orang yang terkena BBLR di Rumah Sakit Al-Fatah Ambon. Dan jumlah sample pada kelompok control sebanyak 92 orang yang tidak terkena BBLR, sehingga perbandingan antara kelompok kasus dan kelompok control yaitu 1 : 2 jadi total sample adalah sebanyak 138 orang.

4. Cara Pengambilan Sampel

Cara pengambilan sample dlakukan secara purposive sampling. Dengan criteria sample yang memiliki data yang lengkap, yang sesuai dengan variabel penelitian. Yang meliputi umur ibu, jarak kehamilan, paritas, kadar HB dan pemeriksaan kehamilan/ANC. Dengan cara mula-mula diambil sampel kasus, kemudian dipilih seperti kriteria seperti variable yang diteliti. Setelah itu di ambil sample control yang juga mempunyai kriteria yang sama.

D. Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang diolah dari rekam medik di Rumah Sakit Al-Fatah Ambon, propinsi maluku tahun 2006.

E. Pengolahan dan Penyajian Data

Data diolah dengan menggunakan bantuan elektronik berupa computer dengan metode sebagai berikut : membuat variable, input data, pengolahan data, dan disajikan dalam bentuk tabel dan penjelasan.

F. Analisis Data

Untuk menguji hipotesis nol (Ho) dengan analisis bivariat (oods Ratio) dengan menggunakan tabel 2 X 2

Interpretasi nilai OR dengan menggunakan interval kepercayaan 95% yakni :

OR <>

OR = 1, bukan factor risiko

OR > 1, berarti variable tersebut adalah factor risiko

Hubungan dikatakan bermakna apabila nilai lower limit dan upper limit tidak mencakup nilai 1.

Lower limit = OR x e ˉ­­

Upper limit = OR x eˉ

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    1. Analisis Faktor Risiko Paritas Terhadap Kejadian BBLR

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebahagian besar ibu yang melaksanakan persalinan dengan paritas rendah minimal 3 anak (79,7%) yang menunjukkan bahwa ibu telah menerapkan normal keluarga kecil bahagia dan sejahtera sebagai salah satu bentuk program pembangunan kesehatan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Paritas yang tinggi akan berdampak pada timbulnya berbagai masalah kesehatan baik bagi ibu maupun bayi yang dilahirkan. Salah satu dampak kesehatan yang mungkin timbul dari paritas yang tinggi adalah berhubungan dengan kejadian BBLR.

Sebagaimana hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan paritas tinggi yang merupakan kelompok berisiko tinggi secara merata terdistribusi pada kelompok kasus dan kontrol (50%) yang memberi interpretasi bahwa paritas yang tinggi tidak mempengaruhi kesehatan ibu sehingga melahirkan bayi dengan berat lahir yang cenderung normal.

Pengaruh paritas terhadap kejadian BBLR berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan bahwa paritas merupakan faktor risiko penyebab kejadian BBLR pada bayi. Hal ini ditunjukkan dengan hasil pengujian statistik yang diperoleh nilai Odds Ratio (OR) = 2,438 sehingga dapat dikatakan bahwa paritas merupakan faktor risiko terhadap kejadian BBLR dimana ibu dengan paritas > 3 anak berisiko 2 kali terhadap melahirkan bayi dengan BBLR.

    1. Analisis Faktor Risiko Jarak Kelahiran Terhadap Kejadian BBLR

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebahagian besar ibu telah memiliki jarak antara kelahiran pada kategori renggang dan merupakan kelompok dengan risiko rendah (61,6%). Jarak kelahiran renggang pada penelitian ini jika rentang waktu antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya minimal 2 tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan jarak kelahiran yang rapat lebih banyak dengan kelahiran bayi dengan berat lahir yang tidak tergolong BBLR (54,7%) namun jika ditinjau dari angka pencapai tersebut masih relatif rendah yang memberi indikasi bahwa kejadian BBLR sendiri masih cenderung tinggi yang disebabkan karena jarak kelahiran yang terlalu dekat.

Hasil uji statistik diperoleh nilai Odds Ratio (OR) = 2,370 sehingga dapat dikatakan bahwa jarak kelahiran merupakan faktor risiko terhadap kejadian BBLR dimana ibu yang memiliki jarak kelahiran <>

    1. Analisis Faktor Risiko Kadar Haemoglobin Terhadap Kejadian BBLR

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak dari ibu yang memiliki kadar haemoglobin yang berisiko (55,1%) dengan kadar haemoglobin dalam darah kurang 11 g/dl.. Kadar Hb yang normal pada penelitian ini adalah jika hasil pemeriksaan laboratorium darah ibu menunjukkan kadar ≥ 11 g/dl pada manusia normal.

Dampak kesehatan yang dapat dijadikan dasar dari pengaruh kejadian anemia pada ibu hamil salah satunya adalah kejadian berat bayi lahir rendah (BBLR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan kadar Hb kurang (mengalami anemia) lebih banyak yang melahirkan bayi tidak dengan BBLR (59,2%) yang memberi interpretasi bahwa kadar Hb tidak memberi pengaruh terhadap kejadian BBLR.

Namun jika dengan meninjau ibu dengan kadar haemoglobin yang tidak berisiko dengan kadar Hb 11 g/dl keatas lebih banyak tidak mengalami kelahiran bayi dengan BBLR dan menunjukkan peningkatan yang berarti (70,9%). Hal ini memberi indikasi bahwa semakin baiknya kadar Hb dalam darah merupakan wujud nyata terhadap status kesehatan ibu yang optimal dan sekaligus sebagai unsur penunjang dalam pelaksanaan proses persalinan.

Hasil uji statistik diperoleh nilai Odds Ratio (OR) = 2,159 sehingga dapat dikatakan bahwa kadar haemoglobin merupakan faktor risiko terhadap kejadian BBLR dimana ibu yang memiliki kadar haemoglobin <>

    1. Analisis Faktor Risiko Pemanfaatan Antenatal Care (ANC) Terhadap Kejadian BBLR

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak dari ibu yang kurang memanfaatkan pemeriksaan pada masa kehamilan dan merupakan kelompok berisiko (51,4%). Pemeriksaan kehamilan yang lengkap dimaksudkan dalam penelitian ini adalah jika ibu telah melaksanakan pemeriksaan antenatal secara lengkap dan teratur mulai dari pemeriksaan kala 1 (KI) sampai kala 4 (Kala IV). Jadi frekuensi kunjungan ibu ke pelayanan kesehatan pada masa kehamilan harus dilaksanaka minimal 4 kali.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan banyaknya pemeriksaan kehamilan yang kurang lengkap yang merupakan kelompok berisiko lebih banyak yang melahirkan bayi tidak dengan BBLR (50,7%) yang memberi indikasi bahwa pelayanan antenatal tidak memberi pengaruh terhadap status kesehatan bayi. Hal ini memberi gambaran akan adanya pengaruh dari faktor lain yang dapat berhubungan dengan penciptaan status gizi ibu yang optimal sehingga juga akan mendukung status kesehatan dan status gizi bayi yang dikandung dan lahir dengan tidak BBLR.

Selanjutnya berdasarkan hasil pengujian statistik diperoleh nilai Odds Ratio (OR) = 4,949 sehingga dapat dikatakan bahwa pemeriksaan kehamilan secara lengkap sebagai wujud pemanfaatan pelayanan antenatal care (ANC) merupakan faktor risiko terhadap kejadian BBLR dimana ibu yang tidak melaksanakan pemeriksaan kehamilan secara lengkap berisiko 5 kali untuk melahirkan bayi dengan BBLR.

Sedangkan dengan meninjau nilai Confidence Interval (CI) yang tidak mencakup nilai 1 (2,232 – 10,976) maka risiko yang ditimbulkan dikatakan bermakna, Ho ditolak. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa ibu yang kurang memanfaatkan pemeriksaan kehamilan dengan frekuensi kunjungan ke pelayanan ANC yang tidak secara lengkap memiliki hubungan yang bermakna terhadap kejadian BBLR pada bayi dan memiliki peluang untuk melahirkan bayi dengan berat lahir rendah <>



KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan

    1. Paritas merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian BBLR sehingga ibu dengan paritas lebih dari 3 anak berrisiko 2,4 kali untuk melahirkan bayi dengan BBLR

    2. Jarak kelahiran merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian BBLR sehingga ibu dengan jarak antara kelahiran <>

    3. Kadar Haemoglobin merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian BBLR sehingga ibu dengan kadar haemoglobin dalam darah yang kurang dari 11 g/dl berrisiko 2,2 kali untuk melahirkan bayi dengan BBLR

    4. Pemanfaatan pelayanan ANC merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian BBLR sehingga ibu yang kurang memanfaatkan pelayanan ANC dengan frekuensi kunjungan pemeriksaan kehamilan yang tidak lengkap minimal 4 kali berrisiko 5 kali untuk melahirkan bayi dengan BBLR

  1. Saran

    1. Perlunya peningkatan pembinaan kepada masyarakat tentang norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera sehingga dapat meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga yang tidak hanya melibatkan ibu namun dengan adanya dukungan dari suami sehingga perwujudan masyarakat sehat dapat dicapai secara optimal.

    2. Perlunya pemberian informasi secara aktual kepada ibu dan suami untuk mengatur jarak kelahiran dalam rangka mencegah timbulnya berbagai dampak kesehatan pada masa kehamilan dan persalinan.

    3. Perlunya pula peningkatan kesadaran dari ibu tentang pentingnya pelaksanaan pemeriksaan kesehatan khususnya pemeriksaan pada masa kehamilan yang dilakukan secara lengkap melalui pemberian informasi akan pentingnya pemeriksaan kehamilan dalam rangka kontrol kesehatan ibu dan bayi pada masa kehamilan

    4. Adanya pengetahuan tentang pentingnya hidup sehat pada ibu khususnya pada masa kehamilan dengan penerapan pola makan teratur dan seimbang sehingga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dan bayi yang dikandungnya yang juga merupakan unsur pendukung pencapaian status kesehatan yang optimal baik ibu maupun bayi yang dikandungnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar